Ada seorang desa yang "ndeso", datang ke sebuah mal ternama di ibu kota. Panggil aja dia "ndeso"
Waktu itu dia ketiban rejeki, so.. it’s time for jalan-jalan. Akhirnya dia tiba di mal terkemuka itu. Tapi tetep "ndeso", ya "ndeso". Pas mau tidur dia nyari tempat duduk panjang buat "ngaso", eh, kebablasan. Secara dia dari kampung, klo tidur tuh dia selalu "ngorok". Ampun deh kalau ngedengerinnya.
Gak ngerasa kalau "pengorokkan"-nya itu menyebabkan keributan seantero mal, akhirnya ada seorang satpam mal itu yang marah karena kelakuan si "ndeso" ini. Satpam itu kaget, "Ya Allah ini orang, udeh kaye di rumahnye aje (logat betawi)".
Satpam itu pun ternyata takut sama si "ndeso" ini. kenapa? "buju buset, ni orang ape gorile" sahut satpam itu. Ternyata satpamnya takut dengan si "ndeso" ini.
Demi ketentraman pengunjung yang ada di mal itu, satpam itu memutar otak untuk mengusir "ndeso" itu. Mengingat tubuhnya yang gede, dia mencari senjata untuk mengusir si "ndeso" itu. Bukan senjata api, tapi selembar kertas yang lipat-lipat menjadi seperti bola.
Tuing,tuing. Satpam itu melempar senjatanya sambil mengambil formasi kura-kura (bersembunyi di dekat tempat sampah). Satu per satu kertas itu dilempar ke arah si "ndeso" itu. Ada yang meleset ada yang kena juga. Akhirnya timpukan iu mengenai wajahnya, dia pun bangun sambil mencari-cari dari mana asal timpukkan itu, sambil komat-kamit, "sial, ganggu orang tidur aja". Dia pun tertidur lagi (dasar "ndeso"!).
Dilemparkannya lagi kertas itu kearahnya. Masih sama dengan cerita paragraf di atas. Si "ndeso" ini orang yang sangat pemalas. Sambil mencari si pelempar, dia berkomat-kamit tidak jelas lalu tidur lagi.
Satpam itu pun frustasi. "Peluru-pelurunya" sudah habis. Masih banyak akal, dia kemudian melemparkan batu-batu kerikil yang ada di pot di depannya ke arah si "ndeso tersebut. Pokoknya cerita yang ini sama seperti cerita di atas tadi. Sambil mencari si pelempar, dia berkomat-kamit tidak jelas lalu tidur lagi.
Satpam itu kualahan. "Masih banyak batunye, tenang aje..". Kerikil itu dia masukkan ke saku celananya sebelah kiri. melihat kelakuan si "ndeso" ini, dia gemes. Maju sedikit beberapa langkah kedepan. Maksudnya agar pas mengenai "tuuuuttttt".
Dia punya akal, kalau melemparnya jangan satu-satu. Dengan rasa gereget, dia ambil batu-batu yang ada di kantong sebelah kanan segenggaman tangannya.
Krincing, krincing. Satpam ini salah mengeliarkan senjatanya. batu-batu itu seharusnya ada di saku celana sebelah kiri. Dia malah melemparkan uang receh yang ada di saku kanan yang tidak terhitung jumlahnya.
Kembali ke si "ndeso". Tanpa isyarat, dengan secepat kilat dia mengambil semua uang itu tanpa melihat siapa yang melemparkannya. "Rejeki emang dari mana aje", sambil berbicara, dia bangun dan langsung pergi meninggalkan mal itu.
-tamat-
Quote For Today..
Ketika Tuhan menciptakan
wanita, Dia lembur sampai enam hari.
Malaikat datang dan
bertanya, “Mengapa begitu lama tuhan?”
Tuhan menjawab, “Sudahkah
Engkau melihat semua detail yang Saya buat untuk menciptakan mereka?
Dua tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari
plastik, setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan
berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak
saat yang bersamaan. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati
dan keterpurukan, dan semua dilakukannya cukup dengan dua tangan
ini.”
Maliakat itu takjub,
“Hanya dengan dua tangan? Impossible ! Itukan tangan yang modelnya
standar. Sudahlah tuhan besok kita lanjutkan lagi untuk
menyempurnakannya”.
“Oh, tidak. Saya juga
akan menyelesaikan ciptaan ini karena ini adalah ciptaan faforit
Saya. Oh iya, dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan
bisa bekerja 18 jam sehari”
Malaikat mendekat dan
mengamati bentuk wanita dan ciptaan Tuhan itu. “Tapi Engkau
membuatnya begitu lembut Tuhan?” Tanya Malaikat.
Tuhan menjawab, “Ya,
Saya membuatnya lembut. Tapi Engkau belum bisa bayangkan kekuatan
yang saya berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar
biasa”.
“Apakah dia bisa
berpikir?” Malaikat bertanya.
“Tidak hanya berpikir,
dia juga mampu bernegosiasi” Jawab Tuhan.
Malaikat itu menyentuh
dangunya. “Tuhan, Engkau membuat ciptaan ini kelihatan rapuh dan
lelah, seolah terlalu banyak beban baginya”.
“Itu bukan lelah atau
rapuh. Itu air mata” Koreksi Tuhan.
“Untuk apa Tuhan?”
Tanya Malaikat.
Tuhan melanjutkan. ”Air
mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan,
kegagalan, cinta, kesepian, penderitaan, dan kebanggan”.
“Luar biasa, Engkau
jenius Tuhan. Engkau memikirkan segala sesuatunya. Perempuan
ciptaan-Mu ini akan sungguh menakjubkan”.
“Harus itu, perempuan
itu akan mempunyai kekuatan memesona laki-laki. Dia dapat mengatasi
beban bahkan melebihi laki-laki. Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan
pendapatnya sendiri. Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya
“menjerit”. Mampu menyanyi saat menangis, menangis terharu,
bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang
dicintainya. Mampu berdiri melawan ketidakadilan. Dia tidak menolak
kalau melihat yang lebih baik. Dia menerjunkan dirinya untuk
keluarganya. Dia membawa temannya untuk berobat. Cintanya tanpa
syarat. Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang. Dia girang
dan bersorak saat melihat kawannya tertawa. Dia begitu bahagia
mendengar kelahiran. Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan
kematian. Dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup. DIa tahu
bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka”
Tuhan menambahkan ada hal
yang perlu diingatkan untuk perempuan ciptaan-Nya itu. “Hanya ada
satu hal yang kurang darinya!”
“DIA
LUPA BETAPA BERHARGA DIRINYA”
-Tamat-